Senin, 09 Juli 2018

PRAMUKA IAIN KEDIRI ZAMAN DOLOE


Gerakan Pramuka di IAIN Kediri mulai berdiri sejak mandirinya STAIN Kediri dari IAIN Sunan Ampel Surabaya pada tahun 1997. Adanya Gerakan Pramuka diawali oleh Perkemahan Wirakarya Perguruan Tinggi Keagamaan (PW PTK) yang hingga kini waktu pelaksanaannya masih menjadi teka teki, dikarenakan harus ada perwakilan dari STAIN Kediri yang mengikuti agenda tersebut. Maka terbentuklah Racana Joyo Boyo – Dewi Sekartaji tanpa terencana sebelumnya.
Namun, pada awal berdirinya, Gerakan Pramuka masih terkenal cupu di kalangan Mahasiswa. Hal tersebut terungkap oleh gerak gerik anggota Pramuka yang masih malu untuk mengenakan seragam Pramuka. Anggota memakai seragam Pramuka hanya pada malam hari saja, atau siang harinya ketika libur dan ketika menerima tamu dari racana kampus luar juga jika ada agenda penting saja. Itu dikarenakan banyak mahasiswa aktivis yang mengejek seperti anak SD atau bahkan disebut sebagai pendukung Soeharto.
Logo Pramuka STAIN Kediri sebelum alih atatus IAIN kediri
Fakta yang terjadi Seragam bukanlah satu – satunya belenggu. Kegiatan kepramukaan juga jarang ditunjukkan karena memang situasi dan kondisi saat itu masih terkucilkan. Pramuka seolah – olah tidak ada. Bahkan untuk perekrutan penerimaan anggota baru saja, para anggota harus bersembunyi di dalam tenda kecil. Ejekan para mahasiswa memang memadamkan kepercayaan diri setiap anggota Pramuka pada masa itu.  Para anggota tetap bertahan meskipun banyak hinaan.
Keteguhan para anggota Pramuka pada masa itu patut diapresiasi. Karena dari masa ke masa kepercayaan diri itu terus ditunjukkan. Dari setiap anggota baru yang berasal dari sekolah berbeda mereka menginginkan perubahan yang lebih maju. Karena kampus dan sekolah tentu sudah di level yang berbeda. Pramuka di sebuah kampus harus mampu berkembang dengan tekad kuat dan kerjasama dengan kekeluargaan yang harmonis.
Kegiatan yang menonjol pada waktu itu diantaranya adalah gotong royong membersihkan kampus dan kegiatan penerimaan anggota baru yang dirangkai berbeda yang tentunya tidak membosankan. Dari serba kekurangan, perjuangan itu masih terasa sampai sekarang.
Semakin berkembangnya zaman. Pada tahun 2000an anggota Pramuka Mulai memikirkan masa depan Racana dan menginginkan perubahan yang lebih maju lagi. Kak Zen Fuad dkk mencoba memikirkan masa depan racana selanjutnya. Perubahan itu diantaranya mengganti nama Racana menjadi KH. Hasyim Asy’ari untuk Putra dikarena ada sebuah cerita yang mengungkapkan bahwa dahulu KH. Hasyim Asy’ari ternyata ingin mendirikan lembaga pendidikan di Kediri namun belum terlaksana. Untuk mewujudkan keinginan itu maka diangkatlah nama KH. Hasyim Asy’ari. Dan Racana Fatmawati untuk puteri karena keinginan untuk mengangkat nama seorang Pahlawan yang ketika itu jarang dipedulikan, padahal fatmawati adalah seorang Ibu yang menjahit sang merah Putuh.
Tidak hanya nama racana, pusaka racanapun ketika itu dibentuk, Tri Sula sebagai Pusaka Putra yang mengkiaskan bahwa untuk mewujudkan suatu tujuan anggota Pramuka tidak hanya berpusat pada tujuan itu saja. itu dikiaskan dari bentuk Tri Sula, 1 ditengah yang paling panjang dan 2 diantaranya yang lebih pendek. Sedangkan, selendang Hijau untuk putri, itu dikarenakan di Kediri terkenal dengan dewi – dewi yang anggun dan identik memakai selendang hijau.
Perjuangan dalam mewujudkan Pramuka yang lebih maju dari masa ke masa adalah pondasi yang kuat dalam berdirinya Pramuka di IAIN Kediri. Sampai pada tahun 2018 ini, Pramuka terus berkembang dengan kepercayaan diri yang kuat dan semangat tanpa batas. Kekeluargaan terus dijalin antar anggota untuk berproses bersama di Pramuka. Bahkan hingga saat ini para alumni juga masih berperan dalam kegiatan – kegiatan Racana. *Sufi_09/07/2018*

0 komentar:

Posting Komentar