Gerakan Pramuka di IAIN Kediri mulai berdiri sejak mandirinya
STAIN Kediri dari IAIN Sunan Ampel Surabaya pada tahun 1997. Adanya Gerakan
Pramuka diawali oleh Perkemahan Wirakarya Perguruan Tinggi Keagamaan (PW PTK)
yang hingga kini waktu pelaksanaannya masih menjadi teka teki, dikarenakan harus
ada perwakilan dari STAIN Kediri yang mengikuti agenda tersebut. Maka terbentuklah
Racana Joyo Boyo – Dewi Sekartaji tanpa terencana sebelumnya.
Namun, pada awal berdirinya, Gerakan Pramuka masih terkenal
cupu di kalangan Mahasiswa. Hal tersebut terungkap oleh gerak gerik anggota
Pramuka yang masih malu untuk mengenakan seragam Pramuka. Anggota memakai
seragam Pramuka hanya pada malam hari saja, atau siang harinya ketika libur dan
ketika menerima tamu dari racana kampus luar juga jika ada agenda penting saja.
Itu dikarenakan banyak mahasiswa aktivis yang mengejek seperti anak SD atau
bahkan disebut sebagai pendukung Soeharto.
![]() |
| Logo Pramuka STAIN Kediri sebelum alih atatus IAIN kediri |
Fakta yang terjadi Seragam bukanlah satu – satunya belenggu. Kegiatan
kepramukaan juga jarang ditunjukkan karena memang situasi dan kondisi saat itu
masih terkucilkan. Pramuka seolah – olah tidak ada. Bahkan untuk perekrutan
penerimaan anggota baru saja, para anggota harus bersembunyi di dalam tenda
kecil. Ejekan para mahasiswa memang memadamkan kepercayaan diri setiap anggota
Pramuka pada masa itu. Para anggota
tetap bertahan meskipun banyak hinaan.
Keteguhan para anggota Pramuka pada masa itu patut
diapresiasi. Karena dari masa ke masa kepercayaan diri itu terus ditunjukkan. Dari
setiap anggota baru yang berasal dari sekolah berbeda mereka menginginkan
perubahan yang lebih maju. Karena kampus dan sekolah tentu sudah di level yang
berbeda. Pramuka di sebuah kampus harus mampu berkembang dengan tekad kuat dan
kerjasama dengan kekeluargaan yang harmonis.
Kegiatan yang menonjol pada waktu itu diantaranya adalah
gotong royong membersihkan kampus dan kegiatan penerimaan anggota baru yang
dirangkai berbeda yang tentunya tidak membosankan. Dari serba kekurangan, perjuangan
itu masih terasa sampai sekarang.
Semakin berkembangnya zaman. Pada tahun 2000an anggota
Pramuka Mulai memikirkan masa depan Racana dan menginginkan perubahan yang
lebih maju lagi. Kak Zen Fuad dkk mencoba memikirkan masa depan racana
selanjutnya. Perubahan itu diantaranya mengganti nama Racana menjadi KH. Hasyim
Asy’ari untuk Putra dikarena ada sebuah cerita yang mengungkapkan bahwa dahulu KH.
Hasyim Asy’ari ternyata ingin mendirikan lembaga pendidikan di Kediri namun
belum terlaksana. Untuk mewujudkan keinginan itu maka diangkatlah nama KH.
Hasyim Asy’ari. Dan Racana Fatmawati untuk puteri karena keinginan untuk
mengangkat nama seorang Pahlawan yang ketika itu jarang dipedulikan, padahal
fatmawati adalah seorang Ibu yang menjahit sang merah Putuh.
Tidak hanya nama racana, pusaka racanapun ketika itu
dibentuk, Tri Sula sebagai Pusaka Putra yang mengkiaskan bahwa untuk mewujudkan
suatu tujuan anggota Pramuka tidak hanya berpusat pada tujuan itu saja. itu
dikiaskan dari bentuk Tri Sula, 1 ditengah yang paling panjang dan 2
diantaranya yang lebih pendek. Sedangkan, selendang Hijau untuk putri, itu
dikarenakan di Kediri terkenal dengan dewi – dewi yang anggun dan identik
memakai selendang hijau.
Perjuangan dalam mewujudkan Pramuka yang lebih maju dari masa
ke masa adalah pondasi yang kuat dalam berdirinya Pramuka di IAIN Kediri. Sampai
pada tahun 2018 ini, Pramuka terus berkembang dengan kepercayaan diri yang kuat
dan semangat tanpa batas. Kekeluargaan terus dijalin antar anggota untuk berproses
bersama di Pramuka. Bahkan hingga saat ini para alumni juga masih berperan
dalam kegiatan – kegiatan Racana. *Sufi_09/07/2018*







0 komentar:
Posting Komentar